RESENSI
1.
Judul Novel : Dia, Tanpa Aku
2.
Pengarang : Esti Kinasih
3.
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
4.
Tahun Terbit : 2008
5.
Tebal : 280 halaman
6.
ISBN : 978 – 979 – 22 – 3441 – 1
Dia, Tanpa Aku
Cowok kelas 2 SMA bernama Ronald dan memiliki sahabat setia
bernama Andika. Keseharian Ronald terutama saat pulang sekolah adalah
memperhatikan cewek yang ia taksir dari kejauhan. Ronald sangat ingin
mendapatkan cewek itu, tetapi ia blum juga mau PDKT hanya karena cewek itu
masih duduk di bangku kelas 3 SMP. Citra, lebih lengkapnya Citra Devi adalah
nama yang selalu heboh diceritakan Ronald kepada Andika, sebagai sahabat mau
tidak mau Andika mendengarkan cerita
itu. Hampir setiap hari Ronald nongkrong disekolah Citra, memotret Citra dari
kejauhan dan menjadikan potretan itu sebagai koleksinya. Catatan-catatan kecil tentang Citra sudah
dimiliki Ronald, dari makanan favorit, hobi, sampai band yang digemari Citra.
Seluruh catatan kecil itu pernah ia bacakan ke Andika, dan menurut sahabatnya
info itu sangatlah tidak penting. Walaupun terkadang Andika penasaran dengan
sosok nyata Citra yang selama ini hanya diceritakan oleh Ronald…
Semakin dekat waktu Citra masuk SMA, Ronald malah
sibuk mengumpulkan uang untuk membeli celana baru dan kaus. Persiapan ini
dilakukan Ronald hanya untuk PDKT sama Citra. Ia mencoba berhemat di sekolah,
agar secepatnya mendapatkan barang yang diinginkan. Selama Ronald berhemat,
Andika lah yang menanggung biaya pengisian perut Ronald. Enggak setiap hari
juga sih, karena Ronald tau seberapa besar uang saku sahabatnya. Beberapa hari
berjalan dan akhirnya Andika mengalami krisis uang saku, Ronald memutar balik
fikiran agar tidak memberatkan sahabatnya itu. Ide membawa ‘lontong’ dan
‘bakwan udang’ itu akhirnya ditemukan Ronald. Keesokan harinya Ronald membawa
makanan itu untuk disantap bersama sahabatnya, dan mereka menyantap bekalnya di
tempat yang jarang dilalui para siswa. Usaha Ronald itu memang membuahkan
hasil, dia benar-benar mendapatkan barang yang diinginkannya.
Waktu yang Ia tunggu berbulan-bulan datang juga, hari
ini Citra berseragam SMA. Tidak disangka ternyata Citra 1 sekolah dengan
adiknya yang bernama Reinald. Hari pertama ini sangat membangkitkan semangat
Ronald untuk menjalani hari-harinya. Kebetulan juga Citra sekelas dengan
Reinald, jadi Ronald akan dengan mudah mendapatkan informasi mengenai Citra.
Pagi ini adalah hari pertama Reinald melaksanakan MOS, di hari ini juga
kakaknya ribut menyuruh Reinald untuk memperhatikan dan melaporkan semuanya
yang berhubungn dengan Citra. Reinald tiba di sekolah barunya, tak lama
kemudian Ia melihat Citra, tapi Ia tidak lapor kepada kakaknya. Ia berniat
balas dendam karena Ronald sudah membangunkannya secara paksa tadi pagi. Ronald
yang kala itu menunggu kabar dari adiknya, merasa sangat gelisah, dan akhirnya
Ronald nekat menelpon adiknya karena sms nya tidak di gubris keduanya malah
perang mulut di handphone.
Hari ini pertama kali Citra mengenakan putih abu-abu,
kegirangan Ronald semakin menjadi. Ia bertekad untuk menyatakan keseluruhan
perasaan yang Ia tahan selama ini. Pulang dari sekolah, Ia bergegas makan siang
dan kemudian dandan serapi mungkin. Setelah semuanya clear, Ronald meminta doa
restu dari orang seisi rumahnya. Tak lama kemudian Andika datang dan membukakan
pintu mobil taksi yang dinaikinya untuk Ronald. Ronald masuk taksi kemudian
melambaikan tangan pada kedua adiknya, Ia mengambil buket bunga yang sudah
disiapkan sahabatnya itu. Selama perjalanan menuju rumah Citra, Ronald sangat
gelisah, gugup dan sibuk menghela nafas. Andika yang melihat tingkah sahabatnya
itu hanya tersenyum kecil. Sampai di tepi jalan dekat rumah Citra, Ronald turun
dari taksi, sembari membawa buket bunga miliknya. Ia benar-benar tenggelam dalam
dalam semua rasa yang telah mengepungnya selama ini, sampai tidak waspada
dengan apa yang ada di sekelilingnya. Ketika itu Jalan tampak sepi dan tak lama
kemudian datang lah mobil, mobil yang memanfaatkan kelengangan jalan dengan
menambah kecepatan, tetapi Ronald tidak menyadarinya. Akhirnya kecelakaan tidak
terhindarkan, Andika yang melihat kejadian itu seketika berdiri dan menghampiri
tubuh sahabatnya. Andika duduk bersimpuh ditengah jalan dan menyadari jika
Ronald telah pergi.
Setelah kepergian Ronald, Reinald memang selalu
menyalahkan Citra atas kematian kakaknya. Berulang kali Reinald disadarkan
Andika, jika Citra tidak bersalah. Dalam keseharian Reinald memperlakukan Citra
secara keras, ternyata tumbuh suatu rasa yang sama dan pernah di alami Ronald.
Reinald mengaku jika ia menyukai Citra di depan foto kakaknya, dan tidak lama
kemudian Ronald memberikan tanda-tanda akan kehadirannya kembali.
by Isma Wulandari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar